LAPORAN

PERSAMAAN ARRHENIUS DAN ENERGI AKTIVASI

 

  1. I.        Tujuan Percobaan
  2. Mempelajari pengaruh suhu terhadap laju reaksi
  3. Menghitung energi aktivasi (Ea) dengan menggunakan persamaan Arrhenius

 

  1. II.        Landasan Teori

Energi aktivasi adalah energi minimum yang dibutuhkan oleh suatu reaksi kimia agar dapat berlangsung. Energi aktivasi memiliki simbol Ea dengan E menotasikan energi dan a yang ditulis subscribe menotasikan aktivasi. Kata aktivasi memiliki makna bahwa suatu reaksi kimia membutuhkan tambahan energi untuk dapat berlangsung.

Dalam reaksi endoterm, energi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan dan sebagainya disuplai dari luar sistem. Pada reaksi eksoterm, yang membebaskan energi, ternyata juga membutuhkan suplai energi dari luar untuk mengaktifkan reaksi tersebut.

Dalam kinetika, suatu reaksi berlangsung melalui beberapa tahap. Diawali dengan tumbukan antar partikel reaktan. Setelah reaktan bertumbukan, maka akan terjadi penyusunan ulang ikatan dalam senyawa reaktan menjadi susunan ikatan yang berbeda ( membentuk senyawa produk ). Dalam penyusunan ini, akan ada pemutusan ikatan dan pembentukan ikatan yang baru, yang membutuhkan sejumlah energi. Ketika beberapa ikatan reaktan putus dan beberapa ikatan baru terbentuk, tercapailah suatu keadaan dimana dalam sistem terdapat sejumlah reaktan dan produk. Keadaan ini kita sebut sebagai transisi kompleks.

Dalam keadaan transisi kompleks, memiliki campuran antara produk dan reaktan yang cenderung kurang stabil, karena produk yang terbentuk dapat membentuk reaktan kembali. Keadaan ini memiliki energi yang cukup tinggi, karena sistem tidak stabil.

Proses untuk mencapai keadaan transisi kompleks membutuhkan energi yang disuplai dari luar sistem. Energi inilah yang disebut dengan energi aktivasi. Pada reaksi endoterm ataupun eksoterm, keduanya memiliki energi aktivasi yang positif, karena keadaan transisi kompleks memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dari reaktan  (Vogel, 1994).

Pada tahun 1889 Arrhenius mengusulkan sebuah persamaan empirik yang menggambarkan pengaruh suhu terhadap konstanta laju reaksi. Persamaan yang diusulkan adalah :

 

K = konstanta laju reaksi

A = faktor freakuensi

Ea = energi aktivasi

Persamaan tersebut dalam bentuk logaritma dapat ditulis :

 

 

Dari persamaan di atas terlihat bahwa kurva ln K sebagai fungsi dari 1/T akan berupa garis lurus dengan perpotongan (intersep) ln A dan gradien –Ea/R (Tim Dosen Kimia Fisik, 2012).

Kedua faktor A dan Ea dikenal sebagai parameter Arrhenius. Plot dari log K terhadap T -1 adalah linear untuk sejumlah besar reaksi dan pada temperatur sedang.

Persamaan tersebut analog dengan persamaaan garis lurus, yang sering disimbolkan dengan y = mx +c, maka hubungan antara energi aktivasi suhu dan laju reaksi dapat dianalisis dalam bentuk grafik ln k vs 1/T dengan gradien –(Ea/RT) dan intersep ln A.Jika suatu reaksi memiliki reaktan dengan konsentrasi awal adalah a, dan pada konsentrasi pada waktu t adalah a-x, maka dapat ditulis dalam persamaan :

 

Setelah reaksi berlangsung 1/n bagian dari sempurna, x=a/n dan

 

(Atkins, 1994)

Beberapa faktor yang mempengaruhi energi aktivasi adalah sebagai berikut :

  1. Suhu

Fraksi molekul-molekul mampu untuk bereaksi dua kali lipat dengan peningkatan suhu sebesar 10oC . hal ini menyebabkan laju reaksi berlipat ganda.

  1. Faktor frekuensi

Dalam persamaan ini kurang lebih konstan untuk perubahan suhu yang kecil. Perlu dilihat bagaimana perubahan energi dari fraksi molekul sama atau lebih dari energi aktivasi

  1. Katalis

Katalis akan menyediakan rute agar reaksi berlangsung dengan energi aktivasi yang lebih rendah (Castellan, 1982).

  1. III.             Alat dan Bahan
    1. Alat
      1. Rak tabung reaksi 1 buah
      2. Tabung reaksi 10 buah
      3. Gelas piala 600 ml 1 buah
      4. Pipet ukur 10 ml
      5. Stopwatch

 

 

  1. Bahan
    1. Na2S2O8 atau H2O2 0,04 M
    2. KI 0,1 M
    3. Na2S2O3 0,001 M
    4. Larutan amilum 1%
    5. Es batu

 

 

  1. IV.             Cara Kerja
    1. Menyiapkan sistem sesuai yang tertera di bawah ini :

–          Tabung 1 berisi 5 ml H2O2 dan 5 ml air

–          Tabung 2 berisi 10 ml KI, 1 ml Na2S2O3 dan 1 ml amilum

 

  1. Kedua tabung reaksi diletakkan dalam gelas piala 600 ml yang berisi air sesuai dengan suhu pengamatan, sampai masing-masing tabung 1 dan tabung 2 suhunya sama sesuai dengan suhu pengamatan, untuk suhu pengamatan 0o-20oC dilakukan dengan bantuan es.

 

 

 

  1. V.        Hasil percobaan dan Pembahasan

 

No. Rerata suhu (K) 1/T K Ln K

1.

312

0.00320

0.0032

-4.382

2.

308

0.00324

0.00324

-4.6

3.

303

0.00325

0.0033

-5

4.

298

0.00335

0.00337

-5.4

5.

293

0.00341

0.00345

-5.8

6.

288

0.00347

0.00347

-6

 

 

Energi aktivasi dapat ditentukan dengan mengolah data dari grafik hubungan  ln k dan 1/T berdasar persamaan Arrhenius yang didapat data percobaan. Maka praktikan dapat melakukan percobaan berulang dengan mengukur ln k reaksi dari temperatur yang bervariasi untuk memperoleh data yang akan diolah dalam persamaan tersebut.

Percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan antara larutan H2O2 yang diencerkan dengan aquades pada tabung 1 dan campuran KI, Na2S2O3 dan larutan amilum 1% pada tabung 2. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu terhadap laju reaksi dan menghitung energi aktivasi menggunakan persamaan Arrhenius.

Penambahan larutan H2O2 berfungsi sebagai oksidator, yaitu mengubah I menjadi I2. I kemudian berikatan dengan Na2S2O3 yang berfungsi sebagai reduktor, I2 berubah kembali menjadi I- yang selanjutnya berikatan dengan larutan kanji.Ion iodide dan hidrogen peroksida akan bereaksi membentuk gas I2, gas tersebut akan bereaksi kembali dengan ion tiosulfat membentuk kembali ion iodide. D

alam reaksi ini, tidak akan ada yodium yang dibebaskan sampai semua ion tiosulfat habis bereaksi. Dengan tambahan amilum, ion iodide yang terbentuk kembali akan bereaksi dengan amilum dan menghasilkan warna biru pada larutan. Amilum yang digunakan haruslah amilum yang baru dibuat, karena amilum yang telah lama dibuat memiliki kemungkinan perubahan struktur karena pengaruh luar.

Perubahan warna yang terjadi akan semakin cepat apabila reaksi berlangsung pada temperatur yang lebih tinggi. Pada temperatur yang lebih tinggi, ion-ion pereaksi akan memiliki energi kinetik yang lebih besar. Disini terlihat adanya penambahan energi kinetik partikel yang dilakukan dengan menaikkan temperatur reaksi, inilah energi yang diberikan dari luar sistem untuk mencapai kondisi transisi seperti yang dijelaskan teori. Energi tersebut akan diukur besarnya ( energi aktivasi ).

Dari percobaan tersebut, variabel bebasnya adalah suhu sedangkan variabel terikatnya adalah waktu. Dan diperoleh semakin tinggi suhunya maka waktu reaksinya akan semakin cepat. Hal ini terjadi karena semakin tinggi suhu maka energi kinetik suatu partikel akan meningkat. Sehingga pergerakan partikel untuk menimbulkan tumbukan efektif semakin besar juga. Dan sebaliknya, jika reaksi dilakukan pada suhu rendah, reaksi akan semakin lambat.

Dari hasil pengamatan, dapat diketahui pada suhu tinggi warna biru lebih cepat terlihatdaripada suhu rendah. Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi suhunya maka reaksi akan berjalan semakin cepat. Sehingga grafik yang terbentuk adalah garis linear.  Selain untuk menunjukkan kebergantungan laju reaksi terhadap temperature, percobaan ini juga dilakukan untuk menentukan energi aktivasi (Ea) yang dibutuhkan untuk reaksi dengan persamaan Arrhenius serta semakin tinggi suhu maka waktu yang diperlukan untuk bereksi semakin cepat. Pada percobaan yabg dilakukan, didapatkan nilai Ea sebesar 94,023026   kJ/mol dan nilai ln A yaitu 32,37

 

Reaksi yang terjadi:

2H2O2                         2H2O + O2

I2 + 2S2O32-                             2I- + S4O62-

2H2O2 + 2I +  S4O62-                                    I2 + 2H2S2O3 + 2O2

 

Faktor yang mempengaruhi energi aktivasi (Ea) yaitu suhu, faktor frekuensi (A), katalis. Semakin kecil harga Ln k maka harga 1/T rata-rata semakin besar. Ini membuktikan bahwa semakin tinggi temperatur maka energi aktivasinya akan semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan sehingga akan memperbesar harga laju reaksi. Hal ini sesuai dengan teori dimana energi aktivasi berbanding terbalik dengan laju reaksi.

 

  1. VI.        Simpulan dan Saran

–            Simpulan

  1. Berdasarkan data percobaan (dalam grafik ln k vs 1/T), terbukti bahwa laju reaksi akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur (rentang suhu 0oC-40oC)
  2. Energi aktivasi yang dihasilkan pada percobaan ini sebesar 94,023026  kJ/mol

 

–            Saran

Sebelum melaksanakan praktikan sebaiknya benar-benar mendalami materi sehingga dapat menjalankan praktikum dengan baik dan dapat mengurangi terjadinya kesalahan praktikum.

 

  1. VII.        Daftar Pustaka

Atkins PW. 1999. Kimia Fisika. “Ed ke-2 Kartahadiprodjo Irma I, penerjemah;Indarto Purnomo Wahyu, editor. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Physichal Chemistry.

Castellan GW. 1982. Physichal Chemistry. Third Edition. New York : General Graphic Services.

Vogel. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).

Tim Dosen Kimia Fisik. 2012. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang : Jurusan Kimia FMIPA UNNES

Semarang, 24 September 2012

Mengetahui,

Dosen Pengampu                                                       Praktikan

 

 

 

Ir. Sri Wahyuni, M.Si                                                   Helivia Elvandari

NIM. 4301410013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

No Suhu Awal (K) Suhu Akhir Campuran (K) Rata-Rata suhu (K) Waktu reaksi (s)
Tabung 1 Tabung 2 Campuran
1 313 313 313 311 312 8
2 308 308 308 308 308 12
3 303 303 303 304 303.5 15
4 298 298 298 301 299.5 19
5 293 293 293 298 295.5 26
6 288 288 288 293.5 290.75 30

 

  1. Perhitungan

mgrek H2O2    = M . V . val

= 0,04 x 5 x 2 = 0,4 mgrek

 

mgrek KI                     = M . V . val

= 0,1 x 10 x 1 = 1 mgrek

 

mgrek Na2S2O3          = M . V . val

= 0,001 x 1 x 2 = 0,002 mgrek (pereaksi pembatas)

 

Mgrek H2O2 yang bereaksi = mgrek Na2S2O3

 

 

 

  1. Menghitung nilai k

 

 

  1. t = 8 dt

 

 

  1. t = 12 dt

 

 

  1. t = 15 dt

 

 

  1. t=19 dt

 

 

  1. t = 26 dt

 

 

  1. t = 30 dt

 

 

 

  1. Menghitung nilai 1/T
    1. T = 39oC

 

  1. T = 35oC

 

  1. T = 30.5oC

 

  1. T = 26.5oC

 

  1. T = 22.5oC

 

  1. T=17.75oC

 

 

  1. Perhitungan Ea

Dari kurva diperoleh persamaan y = -11309 x + 32,37( y = mx + b )

m = -11309

 

Maka m = – Ea/R

Ea = – ( m x R ) = – (-11309 x 8,314) = 94023,026 J/mol =94,023026   kJ/mol

B = intercept = ln A     = 32,37

 

Jawaban Pertanyaan

Alasan yang mungkin menyebabkan terjadinya penyimpangan apabila suhu diatas 40oC adalah hal ini dimungkinkan karena jika suhunya lebih dari 40oC maka amilum yang ada pada larutan akan rusak atau rusak sebagian , sehingga ion iodide yang terbentuk dari perubahan yodium tidak dapat terdeteksi dengan baik.

 

 

 

LAPORAN

PERSAMAAN ARRHENIUS DAN ENERGI AKTIVASI

 

  1. I.        Tujuan Percobaan
  2. Mempelajari pengaruh suhu terhadap laju reaksi
  3. Menghitung energi aktivasi (Ea) dengan menggunakan persamaan Arrhenius

 

  1. II.        Landasan Teori

Energi aktivasi adalah energi minimum yang dibutuhkan oleh suatu reaksi kimia agar dapat berlangsung. Energi aktivasi memiliki simbol Ea dengan E menotasikan energi dan a yang ditulis subscribe menotasikan aktivasi. Kata aktivasi memiliki makna bahwa suatu reaksi kimia membutuhkan tambahan energi untuk dapat berlangsung.

Dalam reaksi endoterm, energi yang diperlukan untuk memutuskan ikatan dan sebagainya disuplai dari luar sistem. Pada reaksi eksoterm, yang membebaskan energi, ternyata juga membutuhkan suplai energi dari luar untuk mengaktifkan reaksi tersebut.

Dalam kinetika, suatu reaksi berlangsung melalui beberapa tahap. Diawali dengan tumbukan antar partikel reaktan. Setelah reaktan bertumbukan, maka akan terjadi penyusunan ulang ikatan dalam senyawa reaktan menjadi susunan ikatan yang berbeda ( membentuk senyawa produk ). Dalam penyusunan ini, akan ada pemutusan ikatan dan pembentukan ikatan yang baru, yang membutuhkan sejumlah energi. Ketika beberapa ikatan reaktan putus dan beberapa ikatan baru terbentuk, tercapailah suatu keadaan dimana dalam sistem terdapat sejumlah reaktan dan produk. Keadaan ini kita sebut sebagai transisi kompleks.

Dalam keadaan transisi kompleks, memiliki campuran antara produk dan reaktan yang cenderung kurang stabil, karena produk yang terbentuk dapat membentuk reaktan kembali. Keadaan ini memiliki energi yang cukup tinggi, karena sistem tidak stabil.

Proses untuk mencapai keadaan transisi kompleks membutuhkan energi yang disuplai dari luar sistem. Energi inilah yang disebut dengan energi aktivasi. Pada reaksi endoterm ataupun eksoterm, keduanya memiliki energi aktivasi yang positif, karena keadaan transisi kompleks memiliki tingkat energi yang lebih tinggi dari reaktan  (Vogel, 1994).

Pada tahun 1889 Arrhenius mengusulkan sebuah persamaan empirik yang menggambarkan pengaruh suhu terhadap konstanta laju reaksi. Persamaan yang diusulkan adalah :

 

K = konstanta laju reaksi

A = faktor freakuensi

Ea = energi aktivasi

Persamaan tersebut dalam bentuk logaritma dapat ditulis :

 

 

Dari persamaan di atas terlihat bahwa kurva ln K sebagai fungsi dari 1/T akan berupa garis lurus dengan perpotongan (intersep) ln A dan gradien –Ea/R (Tim Dosen Kimia Fisik, 2012).

Kedua faktor A dan Ea dikenal sebagai parameter Arrhenius. Plot dari log K terhadap T -1 adalah linear untuk sejumlah besar reaksi dan pada temperatur sedang.

Persamaan tersebut analog dengan persamaaan garis lurus, yang sering disimbolkan dengan y = mx +c, maka hubungan antara energi aktivasi suhu dan laju reaksi dapat dianalisis dalam bentuk grafik ln k vs 1/T dengan gradien –(Ea/RT) dan intersep ln A.Jika suatu reaksi memiliki reaktan dengan konsentrasi awal adalah a, dan pada konsentrasi pada waktu t adalah a-x, maka dapat ditulis dalam persamaan :

 

Setelah reaksi berlangsung 1/n bagian dari sempurna, x=a/n dan

 

(Atkins, 1994)

Beberapa faktor yang mempengaruhi energi aktivasi adalah sebagai berikut :

  1. Suhu

Fraksi molekul-molekul mampu untuk bereaksi dua kali lipat dengan peningkatan suhu sebesar 10oC . hal ini menyebabkan laju reaksi berlipat ganda.

  1. Faktor frekuensi

Dalam persamaan ini kurang lebih konstan untuk perubahan suhu yang kecil. Perlu dilihat bagaimana perubahan energi dari fraksi molekul sama atau lebih dari energi aktivasi

  1. Katalis

Katalis akan menyediakan rute agar reaksi berlangsung dengan energi aktivasi yang lebih rendah (Castellan, 1982).

  1. III.             Alat dan Bahan
    1. Alat
      1. Rak tabung reaksi 1 buah
      2. Tabung reaksi 10 buah
      3. Gelas piala 600 ml 1 buah
      4. Pipet ukur 10 ml
      5. Stopwatch

 

 

  1. Bahan
    1. Na2S2O8 atau H2O2 0,04 M
    2. KI 0,1 M
    3. Na2S2O3 0,001 M
    4. Larutan amilum 1%
    5. Es batu

 

 

  1. IV.             Cara Kerja
    1. Menyiapkan sistem sesuai yang tertera di bawah ini :

–          Tabung 1 berisi 5 ml H2O2 dan 5 ml air

–          Tabung 2 berisi 10 ml KI, 1 ml Na2S2O3 dan 1 ml amilum

 

  1. Kedua tabung reaksi diletakkan dalam gelas piala 600 ml yang berisi air sesuai dengan suhu pengamatan, sampai masing-masing tabung 1 dan tabung 2 suhunya sama sesuai dengan suhu pengamatan, untuk suhu pengamatan 0o-20oC dilakukan dengan bantuan es.

 

 

 

  1. V.        Hasil percobaan dan Pembahasan

 

No. Rerata suhu (K) 1/T K Ln K

1.

312

0.00320

0.0032

-4.382

2.

308

0.00324

0.00324

-4.6

3.

303

0.00325

0.0033

-5

4.

298

0.00335

0.00337

-5.4

5.

293

0.00341

0.00345

-5.8

6.

288

0.00347

0.00347

-6

 

 

Energi aktivasi dapat ditentukan dengan mengolah data dari grafik hubungan  ln k dan 1/T berdasar persamaan Arrhenius yang didapat data percobaan. Maka praktikan dapat melakukan percobaan berulang dengan mengukur ln k reaksi dari temperatur yang bervariasi untuk memperoleh data yang akan diolah dalam persamaan tersebut.

Percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan antara larutan H2O2 yang diencerkan dengan aquades pada tabung 1 dan campuran KI, Na2S2O3 dan larutan amilum 1% pada tabung 2. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh suhu terhadap laju reaksi dan menghitung energi aktivasi menggunakan persamaan Arrhenius.

Penambahan larutan H2O2 berfungsi sebagai oksidator, yaitu mengubah I menjadi I2. I kemudian berikatan dengan Na2S2O3 yang berfungsi sebagai reduktor, I2 berubah kembali menjadi I- yang selanjutnya berikatan dengan larutan kanji.Ion iodide dan hidrogen peroksida akan bereaksi membentuk gas I2, gas tersebut akan bereaksi kembali dengan ion tiosulfat membentuk kembali ion iodide. D

alam reaksi ini, tidak akan ada yodium yang dibebaskan sampai semua ion tiosulfat habis bereaksi. Dengan tambahan amilum, ion iodide yang terbentuk kembali akan bereaksi dengan amilum dan menghasilkan warna biru pada larutan. Amilum yang digunakan haruslah amilum yang baru dibuat, karena amilum yang telah lama dibuat memiliki kemungkinan perubahan struktur karena pengaruh luar.

Perubahan warna yang terjadi akan semakin cepat apabila reaksi berlangsung pada temperatur yang lebih tinggi. Pada temperatur yang lebih tinggi, ion-ion pereaksi akan memiliki energi kinetik yang lebih besar. Disini terlihat adanya penambahan energi kinetik partikel yang dilakukan dengan menaikkan temperatur reaksi, inilah energi yang diberikan dari luar sistem untuk mencapai kondisi transisi seperti yang dijelaskan teori. Energi tersebut akan diukur besarnya ( energi aktivasi ).

Dari percobaan tersebut, variabel bebasnya adalah suhu sedangkan variabel terikatnya adalah waktu. Dan diperoleh semakin tinggi suhunya maka waktu reaksinya akan semakin cepat. Hal ini terjadi karena semakin tinggi suhu maka energi kinetik suatu partikel akan meningkat. Sehingga pergerakan partikel untuk menimbulkan tumbukan efektif semakin besar juga. Dan sebaliknya, jika reaksi dilakukan pada suhu rendah, reaksi akan semakin lambat.

Dari hasil pengamatan, dapat diketahui pada suhu tinggi warna biru lebih cepat terlihatdaripada suhu rendah. Dapat dikatakan bahwa semakin tinggi suhunya maka reaksi akan berjalan semakin cepat. Sehingga grafik yang terbentuk adalah garis linear.  Selain untuk menunjukkan kebergantungan laju reaksi terhadap temperature, percobaan ini juga dilakukan untuk menentukan energi aktivasi (Ea) yang dibutuhkan untuk reaksi dengan persamaan Arrhenius serta semakin tinggi suhu maka waktu yang diperlukan untuk bereksi semakin cepat. Pada percobaan yabg dilakukan, didapatkan nilai Ea sebesar 94,023026   kJ/mol dan nilai ln A yaitu 32,37

 

Reaksi yang terjadi:

2H2O2                         2H2O + O2

I2 + 2S2O32-                             2I- + S4O62-

2H2O2 + 2I +  S4O62-                                    I2 + 2H2S2O3 + 2O2

 

Faktor yang mempengaruhi energi aktivasi (Ea) yaitu suhu, faktor frekuensi (A), katalis. Semakin kecil harga Ln k maka harga 1/T rata-rata semakin besar. Ini membuktikan bahwa semakin tinggi temperatur maka energi aktivasinya akan semakin kecil dan semakin sedikit waktu yang diperlukan sehingga akan memperbesar harga laju reaksi. Hal ini sesuai dengan teori dimana energi aktivasi berbanding terbalik dengan laju reaksi.

 

  1. VI.        Simpulan dan Saran

–            Simpulan

  1. Berdasarkan data percobaan (dalam grafik ln k vs 1/T), terbukti bahwa laju reaksi akan meningkat seiring dengan meningkatnya temperatur (rentang suhu 0oC-40oC)
  2. Energi aktivasi yang dihasilkan pada percobaan ini sebesar 94,023026  kJ/mol

 

–            Saran

Sebelum melaksanakan praktikan sebaiknya benar-benar mendalami materi sehingga dapat menjalankan praktikum dengan baik dan dapat mengurangi terjadinya kesalahan praktikum.

 

  1. VII.        Daftar Pustaka

Atkins PW. 1999. Kimia Fisika. “Ed ke-2 Kartahadiprodjo Irma I, penerjemah;Indarto Purnomo Wahyu, editor. Jakarta : Erlangga. Terjemahan dari : Physichal Chemistry.

Castellan GW. 1982. Physichal Chemistry. Third Edition. New York : General Graphic Services.

Vogel. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran (EGC).

Tim Dosen Kimia Fisik. 2012. Diktat Petunjuk Praktikum Kimia Fisik. Semarang : Jurusan Kimia FMIPA UNNES

Semarang, 24 September 2012

Mengetahui,

Dosen Pengampu                                                       Praktikan

 

 

 

Ir. Sri Wahyuni, M.Si                                                   Helivia Elvandari

NIM. 4301410013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran

No Suhu Awal (K) Suhu Akhir Campuran (K) Rata-Rata suhu (K) Waktu reaksi (s)
Tabung 1 Tabung 2 Campuran
1 313 313 313 311 312 8
2 308 308 308 308 308 12
3 303 303 303 304 303.5 15
4 298 298 298 301 299.5 19
5 293 293 293 298 295.5 26
6 288 288 288 293.5 290.75 30

 

  1. Perhitungan

mgrek H2O2    = M . V . val

= 0,04 x 5 x 2 = 0,4 mgrek

 

mgrek KI                     = M . V . val

= 0,1 x 10 x 1 = 1 mgrek

 

mgrek Na2S2O3          = M . V . val

= 0,001 x 1 x 2 = 0,002 mgrek (pereaksi pembatas)

 

Mgrek H2O2 yang bereaksi = mgrek Na2S2O3

 

 

 

  1. Menghitung nilai k

 

 

  1. t = 8 dt

 

 

  1. t = 12 dt

 

 

  1. t = 15 dt

 

 

  1. t=19 dt

 

 

  1. t = 26 dt

 

 

  1. t = 30 dt

 

 

 

  1. Menghitung nilai 1/T
    1. T = 39oC

 

  1. T = 35oC

 

  1. T = 30.5oC

 

  1. T = 26.5oC

 

  1. T = 22.5oC

 

  1. T=17.75oC

 

 

  1. Perhitungan Ea

Dari kurva diperoleh persamaan y = -11309 x + 32,37( y = mx + b )

m = -11309

 

Maka m = – Ea/R

Ea = – ( m x R ) = – (-11309 x 8,314) = 94023,026 J/mol =94,023026   kJ/mol

B = intercept = ln A     = 32,37

 

Jawaban Pertanyaan

Alasan yang mungkin menyebabkan terjadinya penyimpangan apabila suhu diatas 40oC adalah hal ini dimungkinkan karena jika suhunya lebih dari 40oC maka amilum yang ada pada larutan akan rusak atau rusak sebagian , sehingga ion iodide yang terbentuk dari perubahan yodium tidak dapat terdeteksi dengan baik.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s